Kamis, 01 Juni 2017

Pemuda Asal Pekalongan Ini Naik Haji Dari Rumah Ke Mekah Jalan Kaki




Mohammad Khamim Setiawan namanya. Mochammad Khamim Setiawan (28) bukanlah siapa-siapa. Bukan orang kaya atau orang penting di negeri ini. Dia hanyalah pemuda biasa asal Desa Rowokembu, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Tapi keberanian dan semangatnya dalam melaksanakan niatnya untuk pergi ke Tanah Suci Mekah sampai membuat orang luar negeri terbengong-bengong.


khamim pemuda pekalongan naik haji jalan kaki



Ya, nama Mochammad Khamim Setiawan tiba-tiba tercantum di media yang berbasis di Dubai, Khaleejtimes. Dia bertekad naik haji dengan jalan kaki dari Pekalongan ke Arab Saudi. Khamim memulai perjalanannya dari Pekalongan pada 28 Agustus 2016 lalu. Ia melewati berbegai negara dengan berjalan kaki. Kecuali menyeberangi lautan atau selat, yang tak mungkin dilakukannya tanpa naik ferry atau kapal.

Ia beristirahat di masjid, menumpang di rumah orang yang bermurah hati, sampai bermalam di hutan pun sudah biasa baginya. Tak disangka, usahanya yang terkesan mustahil itu tak lama lagi akan membuahkan hasil.

Pada 19 Mei 2017, ia telah tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat arab.  Kepada Khaleej Times, Khamim menceritakan perjalanannya. Khamim meyakini bahwa berjalan kaki adalah keutamaan dalam menunaikan ibadah haji. Ini yang menjadikan alasan baginya untuk melakukan perjalanan dahsyat ini. Menguji kekuatan fisik dan spiritual merupakan alasan utamanya untuk berjalan kaki.Yang luar biasa lagi, selama perjalanan,

Khamim menjalankan ibadah puasa setiap hari. Kebiasaan berpuasa setiap hari, kecuali di hari besar agama Islam, telah ia lakukan selama lima tahun terakhir. Kondisinya yang berpuasa, membuatnya hanya berjalan di malam hari.

Dalam kondisi fisik yang baik, ia dapat menempuh perjalanan sepanjang 50 kilometer dalam semalam. Bila ia lelah, ia 'hanya' bisa menempuh 15 kilometer. Selama perjalanan ini, ia hanya dua kali mengalami sakit yaitu ketika ia di Malaysia dan India. Khamim tak membawa banyak uang. Ia hanya diberi Uang Sebesar 1 Juta Rupiah Untuk melaksanakan petualangannya tersebut. Tapi nyatanya, ia kerap mendapat bantuan tak terduga di jalanan.

Yang mengharukan, ia juga kerap mendapat bantuan dari orang yang berbeda agama.
"Saya tak pernah meminta-minta, namun saya selalu bertemu orang yang memberi makanan dan bekal lain," jelasnya.

"Saya disambut di kuil Budha di Thailand, diberi makanan oleh warga desa di Myanmar, bertemu dan belajar dengan ilmuwan muslim berbagai negara di sebuah masjid di India, dan berteman dengan pasangan Kristen asal Irlandia yang bersepeda di Yangon," kisahnya, sebagaimana dikutip dari Good News From Indonesia.

Doping Khamim sederhana saja, campuran air dan madu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Dua potong kaos dan celana, dua pasang sepatu, sejumlah kaos kaki, sejumlah pakaian dalam, sebuah kantung tidur dan tenda, sebuah lampu, telepon pintar dan GPS, adalah seluruh barang yang ia bawa. Hanya itu. Seluruh perlengkapan dimasukkan dalam sebuah tas punggung yang di luarnya terpasang sebuah bendera Indonesia berukuran kecil.

Ia pun membuat tulisan : "I'm on my way to Mecca by foot" atau "Aku dalam perjalanan ke Mekkah berjalan kaki," Bila sesuai rencana, perjalanan panjang Khamim ini akan berakhir di Mekkah pada 30 Agustus 2017, atau sehari sebelum Idul Adha, tepat setahun perjalanannya.

Menurut media yang berbasis di Uni Emirat Arab, Khaleej Times, Konjen Indonesia yang berada di Dubai, Murdi Primbani telah menyambut kedatangan Khamim. Murdi mengatakan, Khamim adalah teladan bagi orang muslim Indonesia, yang mengajarkan kesederhanaan, spritualitas, dan bertekad kuat.

Kisah Khamim memang membuat banyak orang tak percaya. Tapi ingat, berhaji jalan kaki, bukan hal yang cukup aneh. Beberapa kali, terjadi hal serupa. Senad Hadzic (47), berjalan dari Bosnia (Eropa) ke Mekkah pada 2012. Ishaq, berjalan dari Perancis ke Mekkah pada 2016, bahkan hanya dalam waktu 50 hari.

Khamim, jebolan Universitas Negeri Semarang, ini menargetkan tiba di Kota Mekkah pada 30 Agustus 2017 atau sebelum wukuf di Arafah.

Kisah perjalannnya ke Mekkah Khamim ceritakan pada Khaleej Times. Ia meyakini berjalan kaki adalah keutamaan dalam menunaikan ibadah haji. Itulah asalannya menempuh perjalanan jauh.

Menguji kekuatan fisik dan spiritual merupakan alasan utama Khamim berjalan kaki, selain keinginannya menyebarkan pesan berupa harapan, toleransi dan keharmonisan hubungan sesama manusia.

Misi Lain Gus Khamim

Misi lain Gus Khamin adalah mencari jejak kakeknya di jazirah Arab. Kakeknya yang bernama Solichin itu dulu pernah menempuh pendidikan di Al-Azhar, Mesir. Selain itu, Gus Khamim ingin bertemu sejumlah temannya yang juga sedang menempuh pendidikan di sana.

"Tujuan utama Khamim untuk berhaji, tapi dia juga ingin mampir ke Mesir setelah selesai menunaikan ibadah haji. Alasannya karena ingin tahu jejak kakeknya yang pernah menempuh pendidikan di Al Azhar," ucap Saofani Solichin, ayah Gus Khamim, di kediamannya di Desa Rowokembu, RT 11/03, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, belum lama ini.


khamim pemuda pekalongan naik haji jalan kaki


Tak hanya itu, awal Mei lalu saat sang ayah sedang umrah di Tanah Suci bersama kakak pertama Gus Khamim, Sony, mereka ditemui seorang perempuan warga negara Malaysia.

"Kemarin belum lama ini saya umrah. Saat itu Khamim masih berada di Myanmar. Tapi, saat di Mekah saya ditemui oleh seorang perempuan yang katanya kerabat dari habib teman dari Khamim," ucap dia.

Dalam percakapan antara kerabat habib dengan ayah Khamim itu, perempuan itu meminta izin kepada orangtua agar Gus Khamim diizinkan untuk menjadi pengajar atau guru di Mekah.

"Perempuan itu bertanya, apakah Gus Khamim diizinkan tinggal di sini (Mekah). Karena habib menawarkan Gus Khamim untuk menjadi pengajar. Ya, saat itu saya jawab, terserah saja. Kalau memang nanti anaknya mau ya silakan saja. Apa pun keputusan Khamim saya mengizinkan dan rida," ujar Saofani.

Selain minta diizinkan untuk menjadi seorang pengajar, Gus Khamim si haji backpacker itu juga akan dicarikan jodoh jika memang dirinya sudah siap untuk menikah nantinya.

"Perempuan itu juga bilang kalau mau jadi pengajar di sini, nanti Gus Khamim kita carikan jodoh dan menikah di sini saja," ujar dia.

Reaksi Bupati Pekalongan Ketika Mendengar Kisah Ini

Bupati Pakalongan Asip Kholbihi mengaku bangga dengan semangat salah satu warganya itu. Spirit Khamim dapat menjadi contoh bagi pemuda di Kabupaten Pekalongan.

khamim pemuda pekalongan naik haji jalan kaki



"Spirit sesuatu jika diperjuangkan dengan maksimal akan tercapai. Man Jadda Wajada, (Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasil) mungkin spirit dia seperti itu," ucap Asip Kholbihi kepada Liputan6.com, Sabtu, 27 Mei 2017.

Ia menyebut, keinginan Gus Khamim untuk pergi berhaji memang sudah dicita-citakan sejak lama. Dengan niat dan tekad yang mantap, ia memutuskan untuk berangkat berhaji dengan berjalan kaki.

"Meskipun ini jalan kaki berhajinya, tapi legal kok. Semua keperluan izin termasuk paspor dan visanya ada semua. Jadi, enggak salah dan mudah-mudahan tujuannya segera tercapai sampai ke rumah Allah SWT," dia menambahkan.

Dengan keteguhan hatinya dan tak mudah putus asa demi cita-citanya yang tinggi, kata Bupati, Khamim bakal segera mewujudkan impiannya.

"Karena dia mungkin tak punya uang, jalan apa pun ditempuhnya meskipun hanya berjalan kaki. Tapi toh kenyataannya sebentar lagi sampai. Yang penting legal dan insyaallah di sepanjang perjalanan tidak ada kendala," katanya.

Bupati pun akan menemui Khamim jika sudah kembali ke Kabupaten Pekalongan. "Saya akan temui dia kalau sudah pulang naik haji. Saya berikan apresiasi dengan hormat, karena kemampuannya dapat memberikan inspirasi banyak orang," ujarnya.


Dihimpun dari tribunnews dan liputan 6


EmoticonEmoticon